Apa bedanya antara bimbingan belajar, kursus dan pelatihan?​

Apa Perbedaan Bimbel, Kursus dan Pelatihan ?

Ini Penjelasannya

Bimbel (bimbingan belajar), les privat, kursus, dan jenis bimbingan lainnya merupakan metode pembelajaran tambahan untuk anak. Jadi, selain mendapat pelajaran dari sekolah, anak juga akan mendapatkan pelajaran lain atau memperdalam materi belajar saat bimbel, les privat, ataupun kursus.

Banyak orang tua yang bertanya-tanya perbedaan dari ketiganya. Penjelasan selengkapnya akan diuraikan di bawah ini.

 

Bimbel (Bimbingan Belajar)

Metode mengajar di bimbel hampir mirip dengan metode belajar di sekolah.

Sebab, hanya ada satu orang guru atau tentor yang mengajar di depan kelas dan siswa lainnya mendengarkan. Namun, jumlah murid yang diajar di bimbel sangat terbatas, tergantung dari jenis kelas yang diambil. Ada bimbel reguler, platinum, dan lainnya. Semakin tinggi tingkat kelas yang diambil, maka jumlah murid yang diajar pun semakin sedikit. Akan tetapi, biayanya tentu akan semakin mahal ya.

Dari segi efektifitas, belajar di bimbel lumayan efektif. Karena guru bimbel akan memperhatikan sampai dimana pemahaman murid pada materi yang diajarkan dengan memberikan soal-soal latihan. Setelah selesai dikerjakan, maka soal latihan tadi akan dibahas bersama-sama untuk mengetahui letak kesalahan dari setiap anak. Ketika anak tidak mengerti mengenai pembahasan yang diajarkan, anak pun dapat bertanya langsung kepada guru atau tentor yang mengajar.

TRENDING  Gelar akademis pada tingkat strata dua

 

Kursus

Kursus bisa dibilang mirip dengan les privat. Hanya saja, bidang yang dipelajari berbeda. Kalau materi yang dibahas di les privat seputar skill yang berkaitan dengan pelajaran, kalau di kursus lebih ke softskill. Jadi, apa yang dibahas saat kursus lebih spesifik lagi. Misalnya, kursus menyetir dan kursus komputer. Satu kelas kursus biasanya akan diisi oleh beberapa orang anak, tergantung dari softskill atau materi apa yang akan dibahas pada kursus tersebut.
Bimbingan Lain

Bimbingan lain yang dibahas disini bisa berupa pelatihan. Mekanisme belajar dari pelatihan sebenarnya hampir mirip dengan kursus. Yang membedakan hanyalah jangka waktu pelaksanaannya. Bila kursus membutuhkan waktu selama berbulan-bulan, maka pelatihan hanya butuh waktu 2 – 3 hari ataupun 1 minggu saja. Setelah itu, pelatihan pun usai.

Bimbingan lain seperti pelatihan biasanya diselenggarakan oleh lembaga tertentu bagi orang yang mau memasuki dunia kerja. Pada umumnya, pelatihan sifatnya gratis, tapi ada juga lembaga yang mengenakan fee pada orang yang turut serta dalam pelatihan. Dalam proses pelatihan, biasanya ada satu orang pelatih yang akan mengajar beberapa anak untuk memahami suatu hal.

Itu dia perbedaan bimbel, les privat, kursus, dan bimbingan lain. Semoga dengan penjelasan di atas, Anda dapat semakin mengerti mengenai jenis-jenis belajar tambahan yang bisa diikuti demi menambah ilmu ataupun wawasan mengenai materi tertentu.

TRENDING  Bagaimana proses pembuatan batako​

 

Pelatihan

Pelatihan dapat diartikan sebagai proses terencana untuk memodifikasi sikap atau perilaku pengetahuan, keterampilan melalui pengalaman belajar. Tujuannya adalah untuk mencapai kinerja yang efektif dalam setiap kegiatan atau berbagai kegiatan. Dalam hal pekerjaan, tujuan pelatihan adalah untuk mengembangkan kemampuan individu dan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja saat ini dan masa depan organisasi (Manpower Services Commission (MSC), U.K., 1981: 62 dalam Masadeh, 2012). Untuk mencapai tujuan tersebut, pelatihan berusaha memberikan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas terkait pekerjaan. Ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja pekerjaan secara langsung (Truelove, 1992: 273 dalam Masadeh, 2012).

Idealnya, pelatihan sebaiknya dilengkapi dengan pengalaman praktis dan langsung (Hughey dan Mussnug, 1997). Hasil pengamatan Overman (1994: 62) menunjukkan bahwa orang akan cenderung melupakan apa yang ia dengarkan, namun mereka cenderung akan mengingat apa yang dilihat dan pahami. Demikian juga, Hughey dan Mussnug (1997: 53) mencatat bahwa ‘kebanyakan karyawan tidak belajar dengan baik. ketika mereka ‘diajak bicara’. Mereka perlu lebih aktif terlibat dalam pengalaman belajar. ”

Semoga bermanfaat!