Diperkampungan Ke'te kesu' di Sanggalangi Rantepao, Sulsel selama tujuh hari (16-22 Januari ) berlangsung upacara adat Toraja rambu tuka. Pesta suka cita pensucian rumah itu tiap hari memiliki ciri ritual tersendiri. Puncak upacara terjadi pada hari keenam, saat rombongan penyumbang membawa usungan hewan kurban upacara, disertai tarian dan nyanyian tradisional sejak pagi sampai sore hari, kemudian dilanjutkan pada malam harinya pesta pun berakhir setelah melewati malam terakhir yang sejuk dan khidmat

Cara belajar bahasa toraja​

Bahasa Toraja Artinya

Ambe’                Ayah, Bapa

Baine                Perempuan, Wanita

Banua                Rumah

Indo’                Ibu, Mama

Kumande        Makan

Ma’rang                Haus

Mabongi          Malam

Makaroen Sore

Mamma’   Tidur

Mangiru’  Minum

Melambi’  Pagi

Millik        Bangun tidur

Muane     Laki-laki, Pria

Oto           Mobil

Pira           Berapa

Sangbaine Teman perempuan

Sangmane Teman laki-laki

Tabe’         Permisi

Tangdia’     LaparShowing

 

Bahasa Toraja Bahasa Indonesia

Umba la mu ola? Anda mau kemana?

Umbanakua kareba? Apa kabar?

Mellong liu Bagus sekali

Mammi’ liu Enak sekali

Kareba melo Kabar baik

Indanna sangammu sangmane Nama anda siapa?

Tabe’ ambe’ Permisi bapak

Tabe’ indo’ Permisi ibu

Tabe’, tette’ piramo te? Permisi, jam berapa sekarang?

Bongi melo Selamat malam

Mamma’ melo Selamat tidur

Kurre sumanga’ Terima kasih

Daftar Isi

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia.

Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma. Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti ‘orang yang berdiam di negeri atas’. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya.

Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda. Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah Sa’dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut. Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957. Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena penghapusan jalur perdagangan budak yang menguntungkan Toraja. Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meski pun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen. Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.